Anda Tak Hanya Perlu Punya Official Web, Tetapi Juga Mobile Apps April 4, 2011
Posted by faridauliatanjung in Pemikiranku, Pengetahuan Menarik.trackback
Mungkin Tim O’Really tak pernah menyangka bahwa www yang ia temukan ketika bekerja CERN akan menjadi seperti sekarang. Sebuah industri dengan nilai perputaran uang melebihi 10 Triliun Dolar setiap tahunnya, dan hampir menyamai perputaran uang yang terjadi wall street. Tentunya ini menjadikan setiap pihak tertarik untuk terlibat dalam penggunaan internet. Mulai dari pemerintah, perusahaan, selebriti, public figure, hingga anak kecil. Sekarang muncul semacam pengakuan bahwa sebuah perusahaan atau public figure yang belum memiliki website resmi bukanlah perusahaan atau public figure yang maju dan modern. Tapi mungkin kalo di Indonesia lebih sebatas akun facebook atau twitter.
Perkembangan ini berlangsung dengan sangat cepat, terutama di dunia barat seperti Amerika dan Eropa. Setiap orang atau institusi membutuhkan website untuk melakukan branding kepada masyarakat sekaligus mempermudah proses bisnis dari orang atau institusi tersebut. Bagaimana di Indonesia?
Untuk Indonesia, negara dengan pemilik akun facebook terbanyak kedua di dunia, alamat jejaring sosial lebih dibutuhkan oleh masyarakat daripada alamat website. Wajar saja, akses internet di Indonesia belum dapat dinikmati di berbagai daerah, ditambah lagi pengguna internet juga masih belum banyak. Bahkan masih lebih banyak pemilik akun facebook daripada akses internet. Apalagi biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakses internet di Indonesia masih mahal dengan akses data yang lambat. Berbeda dengan negara-negara maju seperti Jepang dan Korea. Masyarakat kita juga masih belum menganggap internet sebagai kebutuhan penting, setidaknya sebagai kebutuhan sekunder pun belum.
Kemudian, apa yang harus diupayakan untuk dapat menjangkau masyarakat Indonesia dalam melakukan branding atau mempermudah proses bisnis dan penjualan? Jawabannya adalah handphone. Penetrasi handphone di Indonesia sangat luar biasa. Tercatat lebih dari 200 juta nomor handphone telah terdaftar di Indonesia. Meskipun tidak semua nomor aktif dan beberapa orang memiliki dua nomor, tetapi angka itu jauh lebih banyak dibanding penetrasi internet yang di tahun 2010 baru mencapai sekitar 35 juta pengguna. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Indonesia merupakan negara yang cenderung terlambat dalam mengadopsi teknologi dan kebanyakan masyarakatnya sangat menyukai teknologi yang dapat meningkatkan status sosial (mungkin gengsi) mereka. Itulah sebabnya mengapa Blackberry menjadi salah satu handphone yang berhasil mendapatkan hati di tengah pengguna handphone di Indonesia. Bahkan masyarakat yang cenderung tidak mampu pun rela membeli berbagai hape buatan Cina yang sering disebut “blackberry-blackberryan” supaya terlihat menggunakan blackberry. Itu juga penyebab mengapa facebook dan twitter begitu laris di Indonesia. Jumlah akun facebook dan dari Indonesia mencapai lebih dari 50 juta akun, padahal alamat internet yang terdaftar hanya sekitar angka 35 juta. Kebanyakan pengguna suka mengakses facebook melalui handphone mereka. Ditambah lagi aktifnya para provider seluler untuk memasarkan handphone mereka agar dibeli masyarakat dengan berbagai cara, yang seringkali terlihat membodohi masyarakat.
Melihat kecenderungan ini, seharusnya perusahaan atau public figure memanfaatkan media baru untuk melakukan branding yaitu melalui handphone. Tren perkembangan handphone cenderung mengarah pada smart phone dimana handphone dapat memberikan fasilitas-fasilitas cerdas yang biasanya hanya bisa digunakan di komputer. Integrasi antara handphone dan komputer yang membentuk smart phone ini membuat google tertarik untuk mengembangkan operating system yang berjalan di handphone yaitu android. Android mampu melakukan berbagai operasi yang umumnya dilakukan pada komputer serta dijual secara gratis. Sistem operasi ini juga memberikan kesempatan bagi developer untuk menjual aplikasi yang dapat dimanfaatkan melalui sistem operasi tersebut. Penetrasi android di Amerika Serikat sungguh luar biasa. Baru berjalan sekitar 2-3 tahun, tetapi android berhasil merebut lebih dari 15% pangsa pasar pengguna smartphone di Amerika. Tak hanya itu, aplikasi ini juga menyediakan kesempatan bagi developer untuk mencari nafkah dengan menjual aplikasi melalui android. Sudah banyak perusahaan-perusahaan baru yang bertumbuh menjadi perusahaan penyedia layanan aplikasi smartphone dengan memanfaatkan sistem operasi android.
Perkembangan teknologi ini seharusnya memberikan kesempatan bagi perusahaan ataupun public figure untuk melakukan branding melalui aplikasi pada smartphone. Sayang, utilisasi smartphone di Indonesia masih kurang. Meskipun penjualan smartphone di Indonesia cukup memuaskan, tetapi penggunaan smartphone hanya berfokus pada sms, telpon, dan game. Aplikasi yang banyak digunakan oleh masyarakat pun kebanyakan aplikasi gratisan yang bersifat hiburan seperti game. Selain dikarenakan kurangnya sosialisasi dari para penyedia smartphone mengenai pemaksimalan penggunaan smartphone, aplikasi yang terdapat di smartphone yang berasal dari Indonesia juga belum banyak dan sulit di-download karena akses internet yang tidak stabil dan lambat.
Meskipun begitu, harusnya kondisi ini bisa menjadi peluang bagi perusahaan atau public figure untuk meluncurkan mobile application. Penetrasi handphone yang tinggi dan karakter handphone yang simple dan bisa dibawa kemana-mana akan memunculkan tren penggunaan smartphone di Indonesia. Apalagi banyak aplikasi menarik yang dapat dimanfaatkan disana. Perusahaan atau public figure dapat membuat aplikasi untuk memasarkan produknya sembari memudahkan proses bisnis perusahaan. Perusahaan travel misalnya, dapat membuat sebuah aplikasi yang mampu memudahkan pengguna untuk melakukan pemesanan. Begitu pula dengan perusahaan kuliner. Perusahaan clothing dapat menunjukkan koleksi pakaiannya dan pengguna dapat melakukan pemesanan melalui aplikasi tersebut. Dan banyak lagi lainnya.
Tak hanya itu, perkembangan smart phone juga seharusnya dapat membantu sistem pendidikan di Indonesia. Seperti, pengerjaan tugas atau kuis melalui smartphone yang dapat dipantau oleh guru. Ataupun chatting atau diskusi antar guru dan murid yang berlangsung secara interaktif dengan murid-muridnya.
Semakin ketatnya kompetisi antar provider telekomunikasi akan membuat masing-masing provider mengarahkan pelanggannya untuk meningkatkan utilitas dari smartphone. Apalagi mereka juga dapat memperoleh income yang meningkat dengan semakin seringnya masyarakat mengakses fasilitas yang mereka sediakan. Oleh karena itu, jika anda adalah seorang yang ingin mengembangkan layanan baru untuk memudahkan berinteraksi dengan pelanggan atau membangun brand dengan citra positif terhadap perusahaan anda, segera kembangkan mobile apps. Tapi anda harus bersabar merasakan hasilnya 2 atau 3 tahun kemudian. Sampai para provider telekomunikasi mulai sadar dan berusaha “mencuci otak” para pelanggannya demi keuntungan yang terus meningkat
.

Komentar»
No comments yet — be the first.