Bersosialisasi, Kebutuhan yang Terlihat Tidak Dibutuhkan November 27, 2010
Posted by faridauliatanjung in Kisah Harianku, Pemikiranku.trackback
Sebelum Saya melanjutkan artikel ini, Saya memohon izin kepada rekan-rekan angkatan Saya jika ada yang membaca artikel ini. Saya mengutip tindak-tanduk dan pemikiran rekan-rekan tanpa pemberitahuan.
Mungkin Kita tak akan pernah membayangkan akan berada dimana Kita suatu saat nanti. Bekerja sebagai apa Kita, hidup dengan siapa, dan tinggal dimana. Tapi satu hal yang pasti, tak ada yang dapat memastikan dimana rezeki Kita berada. Bisa jadi ada setiap saat, bisa jadi ada di waktu-waktu tertentu. Bisa jadi ada di tempat yang ramai, bisa jadi di tempat yang sepi. Bisa jadi di luar kampung halaman, bisa jadi di dalam kampung halaman. Bisa jadi harus diperoleh dengan bersusah payah, bisa jadi diperoleh dengan bersenang-senang.
Berbagai tempat yang dapat ditelusuri untuk mencari rezeki seperti kantor, pasar, hutan, gunung, rumah, bahkan dimana-mana. Dimanapun itu selalu ada tempat-tempat tertentu yang dijadikan tumpuan untuk mencari rejeki.
Barusan Saya bertemu dengan seorang kawan lama yang telah melalui kehidupan di daerah hutan untuk bekerja pada perusahaan pertambangan. Kawan lama ini telah berada disana selama 2 bulan untuk mengais rezeki. Barusan Saya bertemu pula dengan kekasih (maklum, habis malem mingguan.. hehe..) Saya yang telah bekerja selama 9 bulan di perusahaan travel di Bandung dan akan segera pindah ke instansi pemerintahan.
Meskipun dua orang ini memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda dengan lokasi yang berbeda, namun keduanya mengungkapkan hal mengenai sebuah kebutuhan mendasar manusia yang sekilas dianggap klise, bersosialisasi.Rekan saya yang bekerja di daerah hutan berujar bahwa meskipun pekerjaan disana bergaji besar dan dapat membuatnya independen terhadap uang, tetapi Ia merasakan kurangnya interaksi dan sosialisasi yang akrab dan hangat yang Ia peroleh selama mengalami masa perkuliahan di Bandung. Harta mungkin dapat dicari, namun kesempatan bersosialisasi belum tentu selalu diperoleh. Kehidupan disana terasa seperti rutinitas, bangun->kerja->pulang->istirahat->bekerja lagi di esok hari.
Sementara itu, kekasih Saya bercerita tentang rencana apa yang akan Ia kerjakan setelah Ia keluar dari pekerjaan saat ini dan menunggu pengangkatan SK dari instansi pemerintahan tersebut. Ia mengungkapkan segala keinginannya untuk berjalan-jalan, berkumpul bersama keluarga, dan kegiatan lainnya. Sembari itu Ia mengungkapkan bahwa tak ada teman ataupun rekan yang memiliki hubungan dan keterikatan erat lagi kini sehingga Ia bebas untuk mengatur jadwal kegiatan selama masa jeda nanti.
Saya simpulkan bahwa: Kawan lama Saya membutuhkan sosialisasi dengan berbagai orang dalam kehidupannya, sementara kekasih Saya justru menginginkan kesendirian tanpa sering bersosialisasi dengan banyak pihak selain keluarganya.
Banyak pihak juga yang merasakan kondisi yang terkadang bergejolak begitu drastis sesuai dengan kedua kisah ini. Suatu saat Kita begitu ingin berinteraksi kembali dengan rekan-rekan Kita, namun di saat lainnya Kita begitu menginginkan untuk sendiri dan tidak diganggu oleh orang lain.
Beberapa waktu yang lalu Saya pernah berujar pada beberapa orang bahwa Saya meyakini untuk saat ini terdapat orang-orang yang dapat hidup tanpa harus hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Mungkin saja itu benar, mungkin saja itu salah.
Kita dapat melihat perspektif dalam dua dimensi waktu, perspektif modern maupun perspektif kuno. Di masa modern seperti sekarang, sepertinya bukan hal yang mustahil untuk melakukan ini. Kita dapat memanfaatkan internet untuk mendapatkan uang dan hal-hal lain yang tak harus melibatkan interaksi antara Kita dengan manusia lainnya. Kita dapat menerbitkan sebuah konten lalu dijual melalui aplikasi yang ada. Kita dapat melakukan hacking dan mencuri uang dari rekening orang lain. Dan perbuatan-perbuatan kriminal lainnya. Ada beberapa pekerjaan yang dapat Kita lakukan menggunakan teknologi tanpa membuat Kita harus berinteraksi dengan manusia lainnya.
Bagaimana dengan perspektif kuno? Mudah saja, Kita dapat hidup menyendiri. Mengandalkan makanan dari tumbuhan yang ada, memangsa hewan untuk dijadikan santapan makan, dan tidur di goa atau tenda di tengah hutan. Sepertinya cerita-cerita seperti ini sering muncul dalam film-film hollywood dimana seseorang terdampar di pulau tak berpenghuni dan Ia hidup sendiri tanpa ada yang menemani.
(Oia, Saya harus menjelaskan bahwa bersosialisasi yang Saya maksud disini adalah bersosialisasi dengan manusia.)
Banyak pendapat yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak akan hidup tanpa manusia lainnya. Menurut Saya pendapat ini tak sepenuhnya benar karena memang peluang Kita dapat hidup tanpa adanya manusia lain adalah 99% (Karena Tuhanlah yang mengatur kehidupan Manusia).
Namun Kita berada di dunia bukanlah hanya untuk hidup. Kita berada di dunia untuk memenuhi tanggung jawab Kita sebagai Manusia yang telah diberikan oleh Tuhan Sang Pencipta. Apakah Manusia hanya dibiarkan berada di Bumi untuk mencari makan? Pasti tidak. Kita dianugerahi akal dan pikiran untuk memikirkan cara menjadikan dunia tempat yang lebih nyaman untuk dihuni (selain juga untuk memikirkan bagaimana cara mencari makan). Dengan akal dan pikiran, Dunia menjadi begitu berbeda dibanding dahulu.
Sejarah membuktikan bahwa penemuan yang dilakukan manusia merupakan pemanfaatan dari apa yang dimanfaatkan di masa terdahulu. Telepon mampu dibuat karena Kita memahami konsep listrik dan suara. Lampu mampu ditemukan karena Kita memahami konsep listrik dan cahaya. Internet mampu dikembangkan karena Kita memahami konsep listrik, komputer, dan matematika. Jika orang-orang terdahulu tak pernah menemukan dan mengembangkan hal-hal yang digunakan untuk itu, kehidupan Kita akan sama dengan kehidupan ketika Nabi Adam pertama kali turun ke muka bumi.
Jadi, apakah Kita dapat hidup sendiri tanpa manusia lainnya? Tentu saja dapat. Namun Kita tak akan dapat membuat kehidupan Kita lebih bermakna dan berguna tanpa keberadaan Manusia lainnya. Hanya saja, interaksi antar Manusia memang rumit. Kadang Kita dapat mendapatkan hal yang manis bersama manusia lainnya, kadang hal yang pahit.
Namun itulah manusia, dengan segala kompleksitas dan kerakusannya. Hal yang perlu Kita lakukan adalah bagaimana menggunakan akal dan pikiran Kita agar dapat membuat segala sesuatu dalam kehidupan Kita lebih bermakna, dalam kondisi apapun. Bukankah Kita diberikan akal untuk menjadikan dunia tempat yang lebih nyaman untuk dihuni.

Komentar»
No comments yet — be the first.