Apakah Prinsip Universalitas yang Harus Berlaku Pada Dunia Web? November 22, 2010
Posted by faridauliatanjung in Pemikiranku, Pengetahuan Menarik.trackback
Saya baru saja membaca artikel dari sang inventor yang berpotensi menjadi pengubah sejarah melebihi Thomas Alva Edison, Si Penemu Web Tim Barners Lee. Kalo ada yang berminat untuk membaca artikelnya silahkan buka link Tim Barners Lee .
Sebuah artikel yang tajam, membuka pikiran, menggugah perasaan. Tim Barners Lee menjelaskan bahwa prinsip utama dari website adalah kemanfaatan dan universalitas. Artinya, ketika Tim Barners Lee pertama kali memperkenalkan teknologi website pada dunia, prinsip inilah yang menjadi visi yang Ia harapkan. Sebuah prinsip dimana suatu saat nanti seluruh masyarakat, tanpa memandang siapa pengguna, darimana asalnya, apa bahasa yang digunakan, cacat maupun tidak, dapat menikmati penggunaan akses internet.
Terdapat kekhawatiran yang diungkapkan Tim Barners Lee mengenai hal-hal yang berkaitan dengan internet. Kekhawatiran utama dari Tim adalah kecenderungan bahwa suatu saat nanti internet akan menjadi sebuah perangkat yang akan menjadi teknologi yang penuh intervensi. Kekhawatiran tersebut mulai ia rasakan dalam beberapa waktu belakangan dimana data para pengguna internet mulai dipantau pemerintah, pemblokiran akses untuk beberapa situs di beberapa negara, dan monopoli para penyedia internet untuk memberikan tarif yang cenderung menyulitkan bagi para pengguna.
Tim menginginkan teknologi dapat dimanfaatkan dari seluruh dunia tanpa memungut biaya, pembatasan akses, dan pemantauan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan mengenai data yang beredar.
Kondisi ini membuat saya berpikir akan sebuah kontras yang terjadi pada waktu kini. Untuk di Indonesia, siapa yang akan membayar telkom dan penyedia ISP lainnya untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya ketika menyediakan internet? Siapa yang akan memblokir penggunaan situs-situs yang bersifat merusak seperti situs perdagangan anak, obat-obatan terlarang, dan situs-situs sejenis? Bagaimana nantinya pengguna internet akan diawasi atas kegiatan-kegiatan berbahaya yang berpotensi akan terjadi di kemudian hari? Apakah mampu kebijaksanaan bersama pengguna internet menyelesaikan masalah ini?
Tentu niat mulia Tim harus disesuaikan dengan kondisi yang terjadi saat ini. Walau bagaimanapun, pola penggunaan internet tidaklah bergantung pada teori statistik dari Gauss, ataupun chaos theory dari Poincare. Pola interaksi manusia jauh lebih rumit daripada itu dan pastinya hanya diketahui oleh Tuhan Sang Penguasa kehidupan maupun kematian.
Interaksi manusia tidaklah bersifat linear sehingga interaksi dapat dianalisis. Tidakpula bersifat chaotic dimana meskipun kita tidak bisa mengatur prosesnya namun kita dapat memprediksi masukan dan hasilnya. Interaksi manusia jauh lebih kompleks dari itu. Apalagi interaksi yang akan terjadi dalam pemanfaatan internet akan berlangsung lebih dari 7 miliar kali, bahkan menuju tak hingga, jika internet dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di dunia.
Pemikiran Tim, menurut Saya, adalah sebuah utopis. Mungkin saja terjadi tapi sungguh sebuah pekerjaan yang begitu mulia sekaligus berbahaya. Siapa yang akan membiayai hidup orang-orang yang mendedikasi waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengembangkan fitur pada internet? Siapa yang akan membiayai pengembangan teknologi yang digunakan untuk menampung data dari begitu banyaknya pengguna yang akan menggunakan internet nantinya?
Kita takkan pernah mampu memprediksi arah penggunaan internet di kemudian hari nanti. Namun satu hal yang pastinya harus Kita pahami bahwa internet telah mengubah segala hal, namun segala hal takkan berganti hanya karena internet. Jika suatu saat internet menjadi gratis, akan ada kompensasi lainnya yang harus Kita sediakan untuk mewujudkan itu. Apapun perubahan yang akan terjadi, siapkah Kita mengorbankan kompensasi lainnya itu untuk tujuan tertentu? Open Your Mind..

Komentar»
No comments yet — be the first.