Integrasi Teknologi Seluler Untuk Mewujudkan Bandung Creative City Januari 8, 2010
Posted by faridauliatanjung in Pemikiranku, Pengetahuan Menarik.trackback
Dimulainya Era Teknologi Seluler di Indonesia
Teknologi seluler mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1996. Pada saat itu, teknologi yang digunakan berbasis Groupe System For Mobile atau Global System for Mobile Communication (GSM). Indonesia, yang merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke 4 di dunia, merupakan pasar yang sangat potensial untuk teknologi ini karena penduduknya yang banyak, dan bentang geografisnya yang berbentuk kepulauan.
Pada tahun 1999, terdapat 3 operator telekomunikasi seluler berbasis GSM di Indonesia. Penetrasi pasar yang dilakukan terpusat di pulau jawa dan pemanfaatannya belum optimal. Hanya 2,5 juta pengguna teknologi tersebut di Indonesia. Harga yang mahal dan jangkauan yang hanya bisa dinikmati di area tertentu membuat teknologi ini belum bisa dinikmati seluruh kalangan masyarakat di Indonesia.
Kondisi pemanfaatan teknologi seluler yang belum maksimal membuat masing – masing operator memperluas jaringan dan memperbaiki layanan untuk menarik pelanggan. Kondisi ini ditunjang dengan kebijakan Universal Service Obligation (USO) yang diterapkan pemerintah Indonesia agar masing – masing operator seluler memperluas jaringannya ke seluruh wilayah di Indonesia. Pada tahun 2005, pengguna teknologi ini melonjak menjadi 46,9 juta pengguna dengan jangkauan hampir di seluruh Indonesia. Tarif komunikasi dan perangkat handphone yang semakin murah, dan jaringan yang semakin luas menjadi penyebab peningkatan pangsa pasar tersebut. Sektor telekomunikasi seluler bertumbuh menjadi sebuah industri yang menguntungkan dan menyerap banyak tenaga kerja.
Pada tahun 2006, operator telekomunikasi seluler di Indonesia memperkenalkan generasi terbaru dari teknologi seluler GSM. Teknologi, yang dikenal juga dengan sebutan 3G, ini menggunakan teknologi berbasis WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access). 3G memiliki keunggulan dalam kecepatan akses data yang dapat mencapai 2 Mbps (Mega bit per second). Operator seluler berbasis GSM memprediksikan 3G mampu menjadikan teknologi seluler meraih pendapatan yang lebih banyak dalam akses paket data dari penggunanya sehingga perusahaan terus bertumbuh dalam hal pendapatan dan jumlah pelanggan.
Pada tahun 2009, operator seluler berbasis GSM di Indonesia bertambah menjadi 5 operator. Sektor telekomunikasi seluler mengalami pertumbuhan yang pesat dimana penetrasi pasar telah mencapai lebih dari 150 juta pelanggan dan lebih dari 95% masyarakat Indonesia telah tercakup oleh jaringan GSM. Berbagai lapisan masyrakat kini telah menggunakan teknologi seluler untuk berkomunikasi dan sektor telekomunikasi mampu menumbuhkan banyak peluang usaha. Tarif yang ditawarkan masing – masing operator seluler menjadi terjangkau masyarakat ditambah dengan berbagai layanan menarik yang ditawarkan. Perkembangan ini menyebabkan sumber pemasukan operator seluler tak hanya dari layanan telepon dan sms, tetapi juga dari layanan paket data yang berisi internet, dan creative content.
Setelah melalui generasi ketiga, teknologi seluler akan menuju ke generasi ke empat yang konvergen menuju teknologi dengan layanan akses data yang cepat dan handal. Teknologi ini telah mulai dirintis dan diterapkan di beberapa negara. Teknologi generasi ke empat seluler, yang dikenal dengan sebutan LTE (Long Term Evolution), akan semakin memanjakan pengguna telekomunikasi seluler di Indonesia dengan layanan paket data yang sangat cepat. Kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi akan akses data membuat teknologi transmisi berkecepatan tinggi didukung kehandalan dan mobilitas akan membuat masyarakat semakin mobile. Ini merupakan era dari teknologi seluler.
Industri Kreatif, Bertumbuh Seiring Pertumbuhan Industri Telekomunikasi
Teknologi seluler yang bertumbuh turut memacu industri lainnya untuk bertumbuh. Sektor industri yang paling pesat pertumbuhannya adalah sektor industri kreatif. Pertumbuhan ini diharapkan menjadi awal kemajuan industri kreatif di Indonesia, terutama dengan dicanangkannya tahun 2009 sebagai tahun industri kreatif.
Industri kreatif adalah serangkaian kegiatan produksi dan distribusi barang maupun jasa yang dikembangkan melalui penguasaan di bidang informasi, pengetahuan, dan kreativitas. industri kreatif dibagi menjadi 14 subsektor yaitu periklanan (advertising), arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, video/film/animasi/fotografi, game, musik, seni pertunjukan (showbiz), penerbitan/percetakan, software, televisi/radio (broadcasting), dan riset & pengembangan (R&D). Industri kreatif telah mampu menghasilkan banyak peluang usaha dan menyerap banyak tenaga kerja. Pada tahun (sekian) industri kreatif mampu menyerap (sekian banyak) tenaga kerja di Indonesia, atau sebanding dengan (sekian persen) penurunan angka pengangguran di Indonesia.
Sejak masuknya teknologi seluler di Indonesia, industri mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2007, industri ini menciptakan angka pertumbuhan sebesar 7,6%. Pertumbuhan ini dipicu oleh pertumbuhan teknologi penunjang, terutama teknologi seluler yang bertumbuh dan kebijakan pemerintah dalam merestrukturisasi birokrasi. Hasil ini mengindikasikan bahwa industri kreatif memberikan kontribusi sebesar 104,77 trilyun rupiah atau sekitar 6,3% dari GDP nasional Indonesia. Kontribusi ini diperkirakan akan memberikan cadangan devisa hingga U$ 6 Milliar bagi Indonesia pada tahun 2010 dan mencapai 10% dari Product Domestic Brutto Indonesia pada tahun 2012.
Konvergensi sektor telekomunikasi ke arah transmisi data berkecepatan tinggi memberikan peluang bagi pelaku usaha industri kreatif dalam menciptakan dan memasarkan produk kreatif. Dengan transmisi data berkecepatan tinggi, peluang untuk menciptakan produk yang bersifat digital creative content akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan volume akses data yang dilakukan masyarakat. Pelaku industri kreatif pun akan semakin mudah memasarkan produknya ke wilayah – wilayah yang dahulu sulit dijangkau karena keterbatasan infrastruktur dan kerumitan birokrasi pemerintah.
Peluang tumbuh dan berkembangnya sektor industri kreatif selayaknya bisa menjadi solusi dalam mengatasi banyaknya pengangguran yang terdapat di Indonesia, serta meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Seiring dengan pencanangan tahun 2009 sebagai tahun Indonesia kreatif, pemerintah Indonesia telah memperbaiki berbagai sarana penunjang untuk pengembangan industri kreatif dan mempersiapkan masyarakatnya untuk menjadi sumber daya intelektual yang kreatif. Beberapa program seperti pemberian insentif pajak bagi pelaku industri kreatif, pembentukan wadah komunitas industri kreatif, dan pemberian modal kerja kepada pelaku industri kreatif telah diwujudkan pemerintah untuk meraih peluang yang disediakan pada industri kreatif.
Memanfaatkan Teknologi Seluler dalam Industri Kreatif
Untuk menunjang pertumbuhan industri kreatif, beberapa operator seluler telah menerapkan beberapa akses untuk memudahkan pelaku usaha industri kreatif dan mengembangkan peluang usaha yang baru bagi masyarakat. Upaya tersebut menjadikan teknologi seluler menjadi terintegrasi dalam perkembangan industri kreatif.
Bentuk integrasi yang ada berupa teknologi seluler yang menjadi basis produksi bagi industri kreatif dan teknologi seluler yang menjadi penunjang pertumbuhan bagi industri kreatif. Masing – masing bentuk integrasi tersebut telah berkembang dan diterapkan oleh seluruh operator seluler di Indonesia. Kini yang dibutuhkan adalah pemanfaatan peluang tersebut menjadi sebuah produk yang bernilai ekonomi ataupun yang meningkatkan kinerja perekonomian.
Beberapa produk industri kreatif memanfaatkan adanya perkembangan yang pesat dari teknologi seluler untuk menjadi peluang usaha. Produk yang telah dipasarkan dalam platform seluler berupa layanan digital creative content, layanan push sms yang memanfaatkan intelligent network, dan internet content (periklanan, media, dan game). Produk – produk yang berbasis kreatif ini memberikan potensi nilai pasar sebesar U$ 75,8 Miliar pada tahun 2009 untuk pasar di seluruh asia dan diperkirakan akan mencapai U$ 180 Miliar pada tahun 2010.
Selain sebagai platform, teknologi seluler juga berperan sebagai teknologi penunjang yang mampu memasarkan produk – produk industri kreatif. Beberapa layanan dari teknologi seluler seperti sms banking, pembayaran menggunakan pulsa, sms promo, bundling discount, dan mobile content kini telah dimanfaatkan oleh pelaku industri kreatif un tuk memasarkan dan menjual produknya. Beberapa fashion outlet kini telah bekerjasama dengan operator seluler untuk memberikan diskon penjualan bagi pengguna kartu operator yang bersangkutan. Begitu pula dengan stasiun televisi dan radio yang telah menyediakan mobile content bagi masyarakat yang ingin menikmati layanan mereka melalui telepon seluler.
Integrasi teknologi seluler dengan industri kreatif telah dimulai seiring dengan masuknya 3G di Indonesia. 3G memungkinkan masyarakat Indonesia untuk menikmati akses data yang lebih cepat dan lebih handal, ditambah dengan harga yang memadai. Jika di masa ke depannya nanti teknologi seluler di Indonesia telah menerapkan LTE, maka pertumbuhan industri kreatif di Indonesia yang semakin pesat dan produk – produk kreatif dalam negeri akan membanjiri pasar Indonesia.
Hanya peluang yang tiba ini diiringi beberapa masalah yang harus segera diselesaikan dan tantangan yang akan muncul di kemudian hari. Sarana teknologi informasi yang belum memadai, dan sumber daya intelektual yang langka menyulitkan Indonesia untuk bersaing dalam meningkatkan pasar industri kreatif yang akan bertumbuh pesat di masa depan. Meskipun sinyal telepon seluler telah menjangkau 95% persen masyarakat Indonesia, namun utilisasi di dalamnya hanya berfokus pada telekomunikasi suara dan sms. Meskipun penggunaan layanan berbasis paket data terus meningkat dari tahun ke tahun, namun layanan yang digunakan hanya sebatas pengaksesan situs jejaring sosial, email, dan messenger oleh anak – anak muda.
Sedangkan tantangan yang akan terjadi di kemudian hari adalah masuknya produk kreatif luar negeri ke dalam Indonesia dan mengalahkan produk kreatif dalam negeri. Saat ini, pemerintah dari luar negeri tengah menggalakkan industri dalam negeri mereka untuk menggiatkan usaha di bidang industri kreatif. Potensi yang terdapat pada bidang industri kreatif membuat negara – negara maju mulai mengalihkan sumber daya mereka untuk memajukan industri kreatif. Inggris contohnya, telah mempelopori peningkatan pertumbuhan pada industri kreatif sejak tahun 1999. Setiap tahunnya industri kreatif di Inggris merasakan pertumbuhan industri kreatif sebesar 8 hingga 9 persen. Sektor industri kreatif di Inggris telah memberikan kontribusi sebesar U$ 12,6 Milliar yang menjadi sektor industri dengan pendapatan terbesar kedua setelah finansial.
Tak hanya Inggris yang mengancam keberadaan produk – produk kreatif di Indonesia, negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan negara lainnya turut menjadi ancaman produk kreatif dalam negeri. Tidak adanya batasan ruang dan waktu pada industri kreatif membuat industri ini bisa dimasuki oleh siapapun, dari manapun ia berasal, selama ia memiliki kreativitas. Tantangan ini tentu menjadi tanggung jawab semua pihak, mulai dari pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat agar terus memajukan industri kreatif Indonesia dan menjadikan produk industri kreatif Indonesia yang terbaik di bidangnya.
Bandung, Gudangnya Industri Kreatif di Indonesia
Indonesia dikenal sebagai negara yang kreatif. Kreativitas masyarakat Indonesia dapat dikenali pada seni dan budaya yang dihasilkan oleh berbagai suku bangsa di Indonesia. Kekayaan seni dan budaya negara Indonesia mencerminkan tingginya minat masyarakat Indonesia dalam mengekspresikan nilai – nilai kreatifnya.
Bandung, sebuah kota yang terletak di Indonesia, merupakan kota yang menjadi pusat produk kreatif terbesar dari Indonesia. Terdapat lebih dari jutaan produk kreatif yang beredar di bandung setiap tahunnya dengan nilai perputaran uang yang terdapat di dalamnya mencapai lebih dari 1 trilyun rupiah dan mampu menyerap 650.000 tenaga kerja. Kondisi ini menjadikan Bandung diproyeksikan untuk menjadi kota kreatif.
Reputasi kota Bandung sebagai kota kreatif semakin menguat setelah dikukuhkannya kota Bandung sebagai kota yang menjadi pilot project kota kreatif se-Asia Timur pada pertemuan internasional kota berbasis ekonomi kreatif di Yokohama, Jepang pada pertengahan Juli 2007. Pengukuhan ini dipicu oleh bertumbuhnya sektor industri kreatif di kota Bandung yang mengandalkan produk pakaian (clothing), kuliner, dan kerajinan tangan (craft).
Pengukuhan kota Bandung sebagai pilot project kota kreatif membuat pemerintah kota Bandung mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia dan lembaga internasional. Untuk mengakomodir kewajiban sebagai pilot project¸ maka pemerintah Kota Bandung mencanangkan program “Bandung Creative City”. Program ini berisi rangkaian kebijakan dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk menstimulasi industri kreatif kota Bandung sehingga mampu mewujudkan kota Bandung menjadi kota Kreatif pada tahun 2012.
Pelaksanaan program “Bandung Creative City” membutuhkan dukungan seluruh pihak yang terlibat di dalamnya seperti pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Perbaikan infrastuktur, penyediaan modal usaha, kemudahan akses perizinan, serta penyediaan pendidikan dan keterampilan kreatif menjadi tugas yang harus diselesaikan pemerintah kota Bandung.
Mewujudkan “Bandung Creative City“
Selain menjadi agenda bagi pemerintah, “Bandung Creative City” juga menjadi agenda bagi pelaku usaha industri kreatif. Oleh karena itu, para pelaku usaha industri kreatif bersatu membentuk forum yang bernama Bandung Creative City Forum (BCCF). BCCF berfungsi untuk mewadahi aspirasi masyakat industri kreatif kota Bandung, dan menggiatkan event – event yang melibatkan para pelaku industrik kreatif di kota Bandung.
HelarFest merupakan langkah besar yang dihasilkan oleh BCCF dalam mewujudkan “Bandung Creative City”. HelarFest merupakan rangkaian event kreatif yang melibatkan seluruh pelaku industri kreatif di kota Bandung untuk memasarkan produk – produk kreatir mereka. HelarFest telah dimulai sejak tahun 2008. Gelaran kegiatan pada HelarFest mencapai lebih dari 70 event yang diadakan oleh 30 komunitas kreatif di kota Bandung.
Keterpaduan pelaku industri kreatif, pemerintah, dan masyarakat kota Bandung ini patut mendapat pujian. Keseriusan kota Bandung untuk menjadi kota kreatif terus ditingkatkan oleh masing – masing elemen masyarakat. Kondisi ini menjadi peluang bagi teknologi seluler untuk membantu mewujudkan keberadaan kota bandung menjadi kota kreatif.
Wujud bantuan oleh teknologi seluler telah terlihat dalam beberapa bidang industri kreatif di kota Bandung. Dengan memanfaatkan banyaknya pengguna telepon seluler di Indonesia, operator seluler dapat bekerjasama dengan pelaku industri kreatif di kota Bandung untuk membentuk komunitas kreatif yang melibatkan pengguna ponsel. Dalam komunitas tersebut, para pelaku industri dapat saling bekerjasama dengan komunitas yang terdapat di dalamnya untuk bertukar pikiran, memamerkan hasil karya, memasarkan produk, mensosialisasikan event, dan melakukan penjualan. Jika komunitas ini tumbuh dan berkembang, maka masing – masing pihak yang terlibat di dalamnya dapat merasakaan keuntungan yang besar. Pelaku usaha industri kreatif dapat memasarkan produknya, anggota komunitas dapat mengetahui perkembangan industri kreatif dan turut terlibat dalam kemajuan industri kreatif, dan operator seluler menjadi pemacu peningkatan pertumbuhan industri kreatif di Kota Bandung.
Selain dalam bentuk komunitas, bantuan yang dilakukan operator seluler bisa berupa sarana teknologi seperti pembayaran produk – produk kreatif melalui pulsa seluler, pemberian harga khusus untuk pengguna teknologi dari kalangan industri kreatif, dan pelibatan pelaku industri kreatif di kota Bandung untuk memberikan added value pada teknologi seluler. Jika bantuan ini dilaksanakan secara simultan dan melibatkan kalangan pelaku industrik kreatif, dan masyarakat di dalamnya, maka pelaksanaan “Bandung Creative City” akan terintegrasi dengan teknologi seluler.
Memasuki tahun ketiga dari program “Bandung Creative City”, perlahan kota Bandung telah menjadi trendsetter dari perekonomian berbasis kreativitas. Ditunjang dengan keberadaan teknologi seluler yang semakin luas dan handal, misi kota kreatif diprediksi akan mampu diwujudkan masyarakat kota Bandung. Sewajarnya peran teknologi seluler lebih ditingkatkan untuk mewujudkan program ini.
“Bandung Creative City” memiliki nilai potensial yang sangat besar dalam hal perekonomian, intelektual, dan kesejahteraan masyarakat. Misi kota kreatif yang dicanangkan kota Bandung menjadikan banyak uang yang akan masuk dan berputar di dalamnya. Hal ini tentu akan meningkatkan perekonomian kota Bandung yang nantinya berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kota Bandung. Agar kota Bandung siap untuk menjadi kota kreatif, tentu dibutuhkan banyak sumber daya intelektual yang siap menghadapi tantangan kedepan di era ekonomi kreatif.
Era ekonomi kreatif akan membutuhkan bantuan teknologi seluler untuk menghubungkan berbagai daerah yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini memberikan efek timbal balik bagi operator seluler. Jika era ekonomi kreatif ini terwujud, maka tingkat kebutuhan akan teknologi seluler akan semakin meningkat dan pertumbuhan pendapatan teknologi seluler akan meningkat pesat seiring dengan peningkatan penggunaannya.
Tentunya “Bandung Creative City” akan menjadi misi yang saling menguntungkan, baik kota Bandung, maupun operator seluler. Peluang besar terbentang di dalamnya untuk dinikmati masing – masing pihak. Tahun 2012 yang menjadi akhir pelaksanaan program “Bandung Creative City” hanya 2 tahun dari sekarang. Jika pilot project ini sukses, maka akan banyak daerah yang akan memanfaatkan hal yang serupa. Ini berarti keuntungan besar akan siap dinikmati teknologi seluler.

Komentar»
No comments yet — be the first.