jump to navigation

Waspadai Penipuan Ala Gampoeng Aceh.. September 15, 2009

Posted by faridauliatanjung in Kisah Harianku, Pemikiranku.
trackback

Perhatian : Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan reputasi restoran gampoeng aceh.. Semoga buah pikiran yang saya uraikan disini menjadi koreksi bagi pemilik restoran gampoeng aceh..

Masyarakat yang pernah bersinggah di kota bandung dan sering mengunjungi wilayah dago di kota bandung pasti telah mengenal rumah makan bernama gampoeng aceh yang berpusat di jalan dago (di sebelah hotel holiday inn).  Gampoeng aceh merupakan rumah makan yang menyediakan masakan aceh. Rumah makan ini selalu ramai dikunjungi pembeli dan merupakan salah rumah makan yang laris dan direkomendasikan oleh banyak penduduk di Bandung untuk disinggahi.

Pada hari jumat 11 September 2009, aku mengunjungi rumah makan tersebut sembari diiringi rasa penasaran. Ketika pertama tiba disana, ada banyak sekali pengunjung dan suasana rumah terlihat seperti rumah makan yang menarik dan menyenangkan.

IMG065Ketika melewati rumah makan tersebut, terlihat plank rumah makan gampoeng aceh telah menyambutku seperti yang terlihat pada gambar di samping ini. Sepertinya tempat makan ini memang enak. Kemudian aku, yang dateng kesana bersama pacarku, memesan menu yang ditawarkan. Makanan belum kupesan namun firasatku sudah terasa tak enak, ada apa gerangan?? Kuperhatikan list menu beserta harga yang ditawarkan. Terlintas sejenak di benakku, apakah wajar makanan dihargai begini mahal?? Perasaan itu terlintas, namun segera kutepis dengan pikiran : “Mungkin saja rasanya enak atau porsinya banyak.” Hatiku kembali tenang dan memesan makanan yang kuinginkan. Aku memesan nasi goreng daging yang dibanderol seharga Rp. 18.000!!

Tak apalah pikirku, mungkin nasi gorengnya seabreg atau dagingnya istimewa atau spesial. Segera kupanggil pramuniaga dan kupesan menu yang kuinginkan itu. Tak kusangka ternyata untuk menu sejenis nasi goreng saja aku harus menunggu selama 30 menit!! Kucoba berpikir positif dengan beranggapan “mungkin masakan aceh emang lama memasaknya”, atau “yah, bisa saja menunya banyak dan laris jadi memasaknya lebih lama”, atau “semoga apa yang kutunggu sebanding dengan apa yang kumakan”. Lewat 30 menit, masih saja masakan yang telah kupesan belum tiba. Kemudian kutemui pihak pelayan dan kutanya : “Mbak, masih lama yah nasi gorengnya?? Dah dimasak apa belum?”. Sontak terkaget aku mendengan jawaban pramusaji yang kutanyai : “Waduh, ga tau juga tuh mas. Kalo lom dimasak mas juga ga papa kok ngebatalin.” Busyet!! Butuh dibeli ga sih makanannya??

Aku kemudian bertambah kesal karena harganya yang mahal dan waktu menunggunya yang lama. Namun pacarku menenangkan dan berkata : “Sudahlah, mungkin yang mesen banyak. Moga2 aja rasanya enak.” Jawaban itu masih tak memuaskan perasaaanku. Aku memaksa pacarku untuk meninggalkan tempat makan ini. Tapi ia meminta untuk tetap disini. Dan apa yang terjadi??

5 menit kemudian, makanan telah tiba. Nasi gorengku telah datang!! Sejenak setelah pelayan memberikan nasi goreng kepadaku, sejurus kata umpatan keluar dari lidahku : “Mas, kalo masak nasi goreng disini emang lama yak?? Buat masak goreng 1 aja ampe butuh 30 menit!!” Diiringi rasa kesel, aku memperhatikan nasi goreng yang disajikan. Astaghfirullah, dari bentuknya saja tak tergambar kelezatannya. Kusentuh nasi goreng itu dengan jariku. Benar dugaanku, nasi gorengnya sudah dingin. Kemudian kuremas nasinya. Kudapati bahwa nasi goreng ini keras. Berhubung aku pernah menjalankan restoran, aku telah tahu bahwa nasi ini telah dimasak dari 1-2 hari sebelumnya kemudian disimpan di rice cooker dan hanya dipanaskan untuk dihidangkan ke pembeli!! Bagaimana mungkin aku tertarik pada nasi goreng seperti ini!! Dan satu lagi, porsinya porsi anak bayi!!

IMG064Gambar disamping mampu mewakili apa yang terjadi padaku saat itu. Bagaimana mungkin makanan dengan porsi seperti ini, rasa seperti ini, pelayanan seperti ini, dan hanya dipanaskan 3 menit sebelum disajikan dihargai seharga 18 ribu rupiah?????? Waoooaaawwwww…!!!! Ini penghinaan terhadap pelanggan namanya. Kekesalanku setelah menghadapi makanan ini semakin memuncak. Selesai makan, kutumpahkan minuman teh manis ke bawah meja dan berteriak kesal atas pelayanan di rumah makan ini. Seperti gampoeng aceh harus menggantinya namanya menjadi : Rumah Sakit Gampoeng Aceh…..

Komentar»

1. ines - Desember 28, 2009

gampoeng aceh yang dimana ini?

2. rita - Januari 9, 2010

saya… termasuk pelanggan tetap gampoeng aceh…. kayanya saya ngak pernah tun ngalamin kejadian kaya gitu… kalo lama sih iya…karena saya pikir disana bukan restoran siap saji… kalo harga untuk ukuran bandung itu termasuk wajar…..

faridauliatanjung - Januari 10, 2010

Mbak rita.. Bersyukurlah jika mbak tak pernah mengalami kejadian seperti itu.. Karena kejadian ini berlaku pada saya dan banyak pelanggan lain yang saat itu memesan makanan disana selain saya… Kalo menurut mbak rita lama bukan sebuah masalah, ga papa. Tapi saya mempermasalahkan hal itu.. Soalnya rentang waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan nasi goreng yang cuma dipanaskan dan ga dimasak ulang harusnya kurang dari 5 menit.. Okelah saat itu banyak pelanggan, tapi menurut saya 20 menit adalah waktu toleransi maksimum.. Masalah harga wajar?? Okey, itu sensitvitas masing2 orang.. Bagi mbak rita yang merasa harga itu wajar ga masalah.. Tapi bagi saya itu sangat bermasalah.. Masak saya dikasi nasi goreng yang cuma dipanasin mesti bayar 20 ribu?? Apa itu standar bandung?? Wah saya yang telah lama tinggal di Bandung baru tahu.. Saya sering kali makan di tempat yang lebih mewah dengan rasa yang lebih enak dan harga yang lebih murah ditambah pelayanan yang jauh lebih baik.. Salah satunya di republik kuliner..
Ini gampoeng aceh yang di dago..

n'da - Januari 15, 2011

klo ngemeng mslh sensitivitas dikembalikan pd individu. dan juga, klo diliat dr customer yg melimpah,sensitivitas harga di warung mkn trsbt tdk trllu pntng. buktinya belum ada penurunan jmlh planggan. ya mngkn mbak aulia trmsk slh satu orng yg sensitivitas harganya tinggi, klo ada pakaian ato barang yg mengalami kenaikan harga, maka anda akan merasa keberatan/tdk merasa puas. itulah perilaku konsumen. *ya bener, hrga trsbt sangat wajar sekali utk daerah bandung, walopun rasanya sdkt tdk karuan*

3. faridauliatanjung - Januari 17, 2011

Heum.. Mungkin iya, tapi saya tak mempermasalahkan tentang sensitivitas harga. Saya mempermasalahkan tentang sesuatu yang dinamakan value. Apakah value dari yang saya dapat sesuai dengan harga yang saya berikan? Hal tersebut tidak berkaitan secara langsung dengan sensivitas harga.
Menurut saya, sensitivitas harga adalah nilai toleransi yang diberikan untuk harga suatu produk. Sebagai contoh, harga suatu perusahaan taksi memberi harga 5000/2 menit, kemudian harga tersebut meningkat menjadi 5500/2 menit. Jika konsumen yang menggunakan cenderung sensitif terhadap harga, tentu konsumen tersebut cenderung tidak naik taksi itu lagi.
Yang saya bahas adalah nilai atau value. Yang saya dapat di gampoeng aceh jika dianalogikan dengan pakaian adalah: saya membayar Rp.75.000 untuk suatu kaos, namun kaos tersebut kotor bin kucel dan bahannya gampang sobek.
Menurut saya hal tersebut tidak berkaitan dengan sensitivitas. Hal tersebut adalah nilai yang dijanjikan perusahaan terhadap konsumen.
Oia, sekedar pemberitahuan. Terdapat beberapa gerai gampoeng aceh yang ditutup belakangan ini. Gerai gampoeng aceh yang terdapat di setiabudhi sudah diganti dengan KFC. Meskipun itu tidak mengindikasikan penurunan omzet dari gampoeng aceh, tapi mereka harusnya lebih memperhatikan perihal pelayanan pelanggan.
Dan terakhir, saya setuju sekali. Rasanya bukan hanya sedikit tidak karuan, tapi membuat saya harus bekerja luar biasa keras untuk merasakannya. Mungkin bisa jadi bernilai -5 dari skala 0-10.

4. merry - Desember 28, 2011

wah .. emang restonya bilang kalau nasi gorengnya cuma diangetin? yakin?
harga nasi goreng 18.000 wajar sih.. solaria, ngopdoel dll juga ga jauh dari segitu. gak kaget.

5. faridauliatanjung - Desember 28, 2011

1. Nasi goreng pinggir jalan juga bisa dijual 18.000. Harga mah bukan patokan, tapi paduan harga, rasa, kuantitas, dan pelayanan.
Lagian ini kan harga 1 taon yang lalu?
Kalo anda bayar 18.000 trus nunggu 45 menit trus pelayannya jutek trus jumlah nasi gorengnya cuma 5 suap, dan rasanya ga enak, mau ga?
2. Mana ada resto yang bilang nasi gorengnya cuma diangetin..
Pencuri mana yang mau ngaku mencuri..
3. Kalo saya sih cuma nyaranin dateng kesana aja..
Kan judulnya juga jelas, “waspadai penipuan ala gampoeng aceh”..
Penipuan terbukti kalo ada yang tertipu, kalo anda ga kerasa tertipu berarti itu bukan penipuan.
Masalahnya dalam kasus saya, gampoeng aceh terbukti menipu..

6. sophie purnama - April 2, 2012

gitu aja ko repot mas…mas,,, capedeh

faridauliatanjung - April 2, 2012

Hahaha.. Iya yak..
Bikin cape aja..
Mbak aja kalo ga suka ama artikelnya kok comment??
Gitu aja kok repot mbak.. Hahaha.. Tambah capedeh..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.